Showing posts with label Katak. Show all posts
Showing posts with label Katak. Show all posts

Thursday, December 13, 2018

Rambo si Kodok Jagoan

Di hutan terdapat seekor Kodok yang pemberani. Dia selalu membela teman-temannya, dan selalu siap untuk membantu temannya yang kesusahan. Kodok jagoan ini bernama Rambo. Ha.. ha.. ha.. seperti judul film holywood saja.

Rambo bekerja sebagai sekuriti di sebuah pusat pembelanjaan di hutan. Suatu hari, terjadi keributan kecil di hutan. Penyebabnya hanya urusan sepele, yaitu tentang mengantri di loket pembayaran karcis bioskop. Seekor katak yang sedang mengantri bersitegang dengan orang yang ada di belakangnya. Sedangkan Rambo, masih mengamati dari kejauhan.

Katak yang ada di barisan depan berkata, "hei, kalau lagi antri yang rapi dong, ini kenapa ada dua antrian, loket pembayarannya kan hanya satu..?", sedangkan Katak yang ada di belakangnya berkata, "sudah lah, semua kita juga bayar, nggak usah sok jagoan". Keributan pun mulai memuncak saat terjadi dorong-dorongan sesama pengantri tiket. Rambo hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah para Kodok yang tidak bisa tertib dalam mengantri. Koq seperti di dunia manusia yang sering rebutan nasi bungkus, ah.. entah lah, itu urgensinya apa berebut nasi bungkus..! Mungkin tidak ada pengaturan dari panitia, sehingga terjadi ricuh dan saling serobot. Tetapi, ini kan antrian di hutan rimba, di dunia binatang, kenapa harus meniru gaya manusia yang tidak bisa tertib.

Kemudian Rambo berdiri dan mendekati antrian yang sedang saling dorong tersebut, kemudian Rambo berkata, "hei, kalian ini sedang apa, kalau antri satu-satu dan tertib, kan semua bisa beli tiket dengan tertib". Diingatkan begitu, ada saja yang nyinyir, "dan kamu siapa, koq sok ngatur segala, urus saja urusanmu sendiri, jangan sok hebat di sini". Sejurus kemudian, Rambo menggebrak meja dan terdengar lah suara yang keras, Braaaak... lalu Rambo berkata, "yang tidak bisa tertib, keluar barisan, yang masih tidak terima, sini.. berhadapan dengan saya, mulut koq nggak bisa santun kalau bicara, minta dihajar juga kalian semua.. mau maju bareng, keroyokan, sini.. aku ladenin.." Rambo dengan postur tubuhnya yang berotot membuat nyali kodok lain pun menjadi ciut. Tidak ada lagi yang berani membantah atau pun  menyahut ucapan Rambo si Kodok Jagoan yang sedang marah.

Kerumunan kodok itu kemudian terdiam seribu bahasa, kemudian mulai lah mereka satu per satu melakukan pengaturan barisan dengan tertib. Lalu Rambo berjalan ke loket penjualan tiket, dan menggebrak kaca penjual tiket, "hei, kamu itu mau kerja atau mau tidur, lama sekali melayani pelanggan". Beberapa saat kemudian, keluar lah seekor kodok petugas penjual tiket dan berkata, "maaf boss Rambo, sedang dilakukan pergantian petugas, sehingga beberapa teman harus menjelaskan kondisi terakhir terkait penjualan tiket". Begitu petugas tiket coba menjelaskan. Rambo hanya bisa menggelengkan kepala, bagaimana bisa jadwal pertunjukan sudah jelas, jadwal buka bioskop pun sudah diatur, dan kenapa petugas tiket bekerja dengan teledor begini. Hmmmm, bagaimana bisa para binatang di hutan mengikuti gaya telat dan ngaret para manusia, suka ribut di sosmed ala pembela capres, atau apalah itu namanya pakai sebut-sebut kampret dan cebong. Kita ini binatang, hidup dengan bermartabat, jangan suka ikut-ikutan manusia yang tidak bisa tertib. Yang gegara nasi bungkus saja bisa ribut dan teriak-teriak, "kami lapaaar".. sungguh dunia manusia, dunia yang aneh dan penuh kepalsuan.

Monday, December 10, 2018

Dori, teman yang baik

Dia adalah Dori si Kodok Ceria. Dori paling suka bernyanyi dan suaranya pun merdu. Tentang persahabantan dengan teman sesama Kodok, tidak diragukan lagi, karena Dori adalah teman yang sangat baik dan disukai pula oleh teman-temannya sesama Kodok. Tidak hanya itu, Dori pun berteman dengan binatang lain di hutan seperti Monyet, Kancil, Gajah dan banyak lagi.

Pada suatu malam, disaat Dori sedang asyik bernyanyi, Dori mendengarkan sayup-sayup suara langkah kaki binatang yang mendekatinya. Dori yang sedang berada di atas bunga daun teratai yang lebar dengan mudah mengetahui kehadiran binatang tersebut. Karena getaran dari permukaan air yang merambat hingga sampai ke daun tempat Dori sedang berada. Kemudian, Dori menghentikan nyanyiannya dan mulai mengamati, siapakah binatang yangsedang mendekatinya.

Alangkah terkejutnya si Dori, ternyata yang sedang berjalan pelan-pelan ke arahnya adalah George si monyet. Dori menyapa si George, "kenapa wajahmu jutek begitu George, malam-malam begini keluyuran, nggak dicariin sama orang tua mu..?", begitu tanya si Dori. George menjawab dengan lesu, "lagi bete nih, boring time.. mau tidur koq nggak bisa tidur, ya sudah.. jalan-jalan saja ke danau, ngobrol dengan mu".

Kemudian, Dori mengungkapkan beberapa rahasia tentang dirinya, Dori berkata, "George, kamu tahu nggak, dulu aku pengen jadi pilot.. tapi apa daya, ternyata aku takut ketinggian, memanjat pohon saja aku tidak berani". George tersenyum, lalu berkata, "Aku dulu mau jadi dokter, tapi ternyata aku takut lihat darah". Kemudian semalaman mereka pun cerita ke sana dan kemari, mengalir saja, sambil begadang, tidak tidur semalaman. Menjelang pagi, George mengatakan bahwa, salah satu penyebab dia tidak bisa tidur adalah, karena George sedang sedih, teringat ibunya yang sudah lama meninggal dunia. Dori pun menghiburnya, "sudah lah, jangan terlalu bersedih... bagaimana kalau kita lomba loncat di atas daun teratai saja..?". George terdiam sejenak, lalu berkata, "yah, aku mana bisa berjalan di atas teratai, aku kan berat, bagaimana kalau lomba memanjat pohon..?", kali ini Dori yang tidak bisa menerima usulan George, "waaaah, aku mana bisa memanjat pohon, aku kan bisanya meloncat".

Beberapa saat kemudian, pagi pun menjelang, sinar mentari mulai menampakkan diri dan menyinari seluruh kawasan hutan dengan perlahan. George pun ingin pulang ke rumahnya, dan berkata pada Dori, "sudah dullu yah, aku pulang dulu". Dori mendatangi George dan menepuk pundaknya, "George, jangan sedih lagi ya, tersenyum lah, mari menatap masa depan dengan semangat, karena ibu mu pasti bangga dengan kamu, jika kamu tetap semangat dalam hidup ini... jangan sedih melulu". George menganggukkan kepalanya, "terima kasih ya bro, kamu memang teman yang baik, senang bisa mengenal kamu dan menjadi temanmu". Dan, George pun pulang ke rumahnya dengan menghapus segala duka yang lagi menyelimuti hatinya. "Semoga ibu tenang di alam sana, aku sayang ibu"...

Katak dan Kunang-kunang

Malam itu di danau tenang hutan, suasana sungguh sunyi. Hanya terdengar nyanyian katak yang silih berganti, saling bersahutan, memecah keheningan malam di hutan rimba. Suasana sunyi nan syahdu itu semakin indah saat beberapa kunang-kunang datang dengan cahayanya yang kerlap kerlip layaknya bintang-gemintang yang menghiasi angkasa.

Seekor kunang-kunang menyapa sang katak dengan ramah, "selamat malam katak, nyanyianmu sungguh merdu". Tetapi sang katak yang diajak bicara tetap bernyanyi riang tanpa perduli dengan sapaan kunang-kunang. Hmmmm, kunang-kunang hanya bisa menghela nafas saat sapaannya tidak digubris oleh sang katak. Kunang-kunang lainnya berkata, "yah begitu itu, mereka terlalu sombong, padahal mereka bisa saja sekedar menjawab sapaan ramah-tamah kita dengan singkat, tetapi mereka terlalu sombong untuk menjawab sapaan makhluk kecil seperti kita. Sudah lah, mari kita nikmati malam ini dengan selalu bahagia". Pekatnya malam pun berlalu, dengan nyanyian katak yang silih berganti saling bersahutan, dan merdunya nyanyian katak semakin sempurna dengan temaram sinar kunang-kunang yang terbang kesana kemarin di atas permukaan danau.

Akan tetapi, suatu ketika terjadi kejahatan hutan yang tidak bisa dimaafkan. Sebuah tragedi, yang diakibatkan oleh keangkuhan dan kesombongan si katak. Sebagaimana malam-malam yang berlalu silih berganti, nyanyian katak yang silih berganti serta kelap kelip kunang-kunang selalu mampu menyempurnakan suasana danau di dalam hutan rimba. Kali itu, ternoda akibat arogansi si katak. Terdengar kabar tentang keindahan makhluk malam, siapa yang paling baik, siapa yang paling pantas disebut sebagai keindahan malam (?)

Sebenarnya sebutan-sebutan paling indah dan sejenisnya tidak perlu dilakukan di dunia binatang, tidak ada yang harus diperebutkan dan diperjuangkan untuk sebuah status lalu disebut paling indah. Karena dunia binatang tidak lah seperti dunia manusia yang selalu rebutan akan status 'paling' dan mengungguli lainnya.

Seekor katak berkata di depan sekumpulan katak lainnya, "siapa yang paling pantas disebut paling indah di malam hari..? tentu saja katak, apalah artinya malam tanpa nyanyian kita yang merdu, bukan kah begitu teman semua..?", ucapan katak disambut sorak gembira katak-katak lainnya. Tetapi seekor katak yang masih muda berkata, "tapi sobat, para binatang di hutan ini sedang membandingkan merdunya suara kita dan indahnya pancaran cahaya kunang-kunang di malam hari, saya rasa.. kunang-kuang pun pantas disebut sebagai keindahan malam di belantara". Hmmmm, ucapan si katak belia tersebut membuat marah katak-katak dewasa, lalu seekor katak dewasa berkata, "tidaaaaak... tidak bisa, tidak ada yang boleh mendapatkan status paling indah di hutan ini pada malam hari, karena hanya katak saja yang pantas mendapatkan sebutan itu, wahai teman sekalian, agar kita menjadi satu-satunya makhluk paling indah di malam hari, besok malam, kita habisi semua kunang-kunang, kita jadikan santap malam kita.. bagaimana, setuju", ucapan katak dewasa disambut dengan gemuruh dan riuh ramai katak-katak lainnya sembari mengucapkan satu kata, "setujuuuuu..."

Malam pun menjelang, semua katak telah siaga di tempatnya masing-masing, sedangkan kunang-kunang tidak ada satu pun yang menyadari musibah besar yang akan menimpa mereka. Seperti malam-malam yang telah berlalu, para katak mulai melantunkan nyanyian malamnya, lalu mulai lah datang satu kunang-kunang, lalu dua kunang-kunang, tiga, empat, sepuluh, dua puluh, sampai dengan ratusan kunang-kunang mulai terbang kesana dan kemari sambil memancarkan cahayanya yang indah, tiba-tiba satu komando katak dewasa memecahkan suasana malam itu, dengan satu teriakan, "seraaaaaaaaang, santap semua kunang-kunang dari hutan belantara ini, agar hanya katak saja yang mendapatkan status makhluk malam paling indah". Teriakan katak dewasa telah mengubah malam itu menjadi malapetaka, tanpa ampun, katak-katak mulai menjulurkan lidahnya dan menangkap kunang-kunang yang tak berdaya lalu melahapnya. Tidak butuh waktu lama, ratusan kunang-kunang pun sirna, sedangkan beberapa kunang-kunang yang menyadari musibah tersebut melarikan diri ke tengah hutan dan meninggalkan danau untuk selamanya.

Yah, malam itu.. danau di hutan belantara hanya menyuguhkan nyanyian katak saja, tanpa kelebat cahaya kunang-kunang walau pun hanya seekor. Aaaah, hilang sudah keindahan sempurna di danau rimba raya pada malam hari, semua akibat keangkuhan katak yang tidak terima ada makhluk lain yang disebut paling indah selain diri mereka sendiri. Ingat, di hutan kita harus bisa hidup berdampingan dan saling mengisi, jangan egois dan mau menang sendiri.

Kodi, Ingin jadi Raja Rimba

Alkisah di sebuah hutan rimba yang damai dan tenang, yang dihuni oleh binatang hutan yang saling bersahabat. Huan rimba yan damai terebut dipipin oleh raja rimba yang sangat bijaksana. Suatu Hari sang raja mengajak para penghuni hutan seprti gajah, jerapah, katak, beruang, burung, kuda nil, monyet dan hewan lainnya untuk berkumpul.

Mereka sangat senang mendengar ajakan sang raja rimba dan menyambutnya dengan sorak sorai. Akan tetapi di suatu sudut terlihat ada seekor Katak yang bernama Kodi yang menanggapi ajakan si raja rimba dengan wajah masam. Sang gajah yang dari tadi memperhatikan sikap Katak tadi kemudian mendekatinya. "Hai Kodi, bagaimana kabarmu hari ini?", Katak pun menjawab sambil membelakangi gajah,"nggak perlu sok akrab" ujar Kodi si katak. Gajah yang masih penasaranpun berjalan menuju Kodi si katak dan kembali bertanya,"apa yang mengganggumu wahai sahabatku, hingga kamu terlihat tidak senang?" Katak dengan marah menjawab,"sudah, Kau tidak perlu tahu urusan ku, urusan saja dirimu dan urusan rajamu itu". Sambil pergi dan menggerutu, Kodi meningalkan gajah yang masih bengong dengan tingkah si Kodi.

Kodi berkata dalam hatinya, "Hmmm dasar raja sombong, apa karena badan dan aumanmu yang menggelegar lalu engkau pantas disebut raja. Padahal aku bisa saja mengalahkanmu dan bisa saja lebih kuat darimu". Si kodi Katak pergi meninggalkan gajah yang semakin bingung.

Acara yang diselenggarakan sang raja rimba pun berjalan dengan sukses dan disambt dengan bersorak sorai gembira para tamu undangan.

Dari kejauhan nampaklah sekelompok ular yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam hutan serta bermain dipinggir kolam. Saat itu si Kodi katak tengah berjemur di atas daun teratai di dalam kolam sambil mengkhayal serta bergumam bahwa dia suatu sat akan menjadi si raja hutan. Ternyata gumamamnya didengar oleh ular tadi. Ular yang memang tidak begitu suka dengan si Kodi pun  saat itu menjadi geram dan kesal dengan kesombongan Kodi. Maka diam-diam ular pun mendekati Kodi dan bersiap mau memberi pelajaran.

Ular memuka lebar mulutnya, kemudian Kodi pun terperangap di dalam rahang si ular. Kodi pun menjerit minta tolong,"tolong....tolong...tolong....," begitu teriak si Kodi. Adapun teman-teman Kodi sesama katak, tak ada yang berani menolong. Mereka semua melarikan diri  berlompatan menjauhi Kodi. Sedangkan Kodi pun hanya bisa pasrah.

Tak jauh dari tempat Kodi, ada seekor kelinci yang sedang lewat. Melihat Hal itu dia segera menegur ular. "ular, tolong kau lepaskan Kodi, walaupun kau tidak suka padanya, tapi kami sebagai warga hutan tidak bisa berbuat demikian. Raja hutan pasti akan marah dengan ulahmu," kata kelinci. Ular pun menjawab,"biar saja, biar Kodi sesekali diberi pelajaran atas kesombongan ya, yang konon merasa lebih pantas menjadi raja hutan, ada-ada saja"

Kelinci akhirnya pergi dan berusaha mencari sang raja rimba untuk menengahi tingkah dua binatang tersebut. Di tengah perjalanan, kelinci bertemu dengan sang raja rimba lalu kelinci menceritakan perihal yang di lihatnya tadi. Dengan diantar kelinci, sang raja rimba sampai ditempat ular menangkap Kodi. Raja rimba berkata, "Hai Ular, apa yang terjadi, tapi engkau tolong lepaskan Kodi, mari kita bicarakan masalah kalia baik-baik dan dengan kepala dingin."

Tak lama kemudian, ular pun melepaskan Kodi, karena Kodi mulai kehabisan napas karena cengrama rahang si ular, akhirnya Kodi hanya bisa terduduk lemas bersandarkan bongkahan batu kali.

Ular memulai pembicaraan, "Maafkan hamba ya raja rimba, hamba sangat kesal dengan si Kodi yang sombong dan sok berkuasa, sudah berapa sering dia berkata kalau dirinya sangat kuat, besar, dan bisa mengalahkanmu, yang hamba lakukan tadi hanya untuk memberi pelajaran untuknya aar tidak sombong dan angkuh". Raja rimba bergumam,"Hmmm benarkah begitu, Kodi si katk," Tanya raja rimba kepada si Kodi.  Kodi menjawab dengan pasrah, "maafkan aku, memang benar demikian wahai raja rimba yang bijaksana".

"Kodi, kaupun suatu saat engkau bisa menjadi raja rimba, bisa menjadi besar dan kuat, bahkan bisa mengalahkan  yang lebih besar darimu sekalipun. Tapi menjadi yg terkuat bukan segalanya. Jadilah dirimu sendiri, bangga dengan apa yang Kau miliki saat ini, bukankah dengan nyanyianmu yang riang dan merdu sudah cukup mampu untu membuat penduduk hutan merasa riang..! Jadi engkau harus selalu bersyukur dengan apa yang kamu miliki dan tidak perlu iri dengan kelebiha binatag lain atau justru menjadi sombong denga kemampua diri sendiri," terang sang raja rimba dengan bijaksana.

Kodi pun hanya mampu mengangguk dan meminta maaf atas kesombonganya selama ini. Akhirnya semua berdamai, dan kedua binatang tersebut yaitu ular dan katak pun bersalaman dan mereka berdua akhirnya menjadi sahabat yang baik.

Pesan dan hikmah:
Kesombongan akan merugikan diri kita sendiri
Pemimpin yang baik  dapat menyelesaikan setiap masalah dengan bijaksana dengan tenang, bukan memperkeruh suasana dan keadaan.

Si Raja Kodok

Walau pun Kodok bukan lah raja hutan, tetapi terdapat seekor kodok yang dijadikan raja diantara kodok-kodok lainnya. Raja Kodok bernama Osas, menjadi raja bukan kekuasaan karena turun temurun atau pun disebabkan partai pengusung yang memenangkan pemilu layaknya dunia manusia, tetapi karena Osas memang seekor kodok yang bijak dan juga bertubuh besar dan tegap. Hal ini menyebabkan Kodok lain pun segan dan hormat padanya.

Sebagai Raja Kodok, Osas sering mendapatkan laporan-laporan ketidak beresan dari Kodok-kodok lainnya di dalam hutan. Akan tetapi dengan kebijaksanaan dan kecerdasannya, Osas dapat menyelesaikan masalah itu dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan. Yah, begitulah Osas, Kodok yang kuat lagi bijaksana, yang menjadi Raja bukan karena manipulasi data pemilih akan tetapi karena pilihan mayoritas Kodok seluruh rimba raya karena kemampuan dan kecerdasannya, karena faktor internal yang dimiliki Osas dengan tanpa meninggalkan faktor eksternal dari pendukungnya. Osas yang bijak lagi cerdas terkadang mendapatkan undangan pertemuan pemimpin binatang satu wilayah danau hutan. Pertemuan itu dihadiri oleh beberapa perwakilan binatang yang bertempat tinggal di danau hutan seperti Raja kura-kura, Raja Buaya, Raja Ular, Raja Ikan, Raja Biawak dan sebagainya.

Suatu ketika, diadakan pertemuan dengan agenda utama tentang pertumbuhan ekonomi di kawasan danau hutan. Perang dagang antara dua kerajaan adi daya di hutan yaitu Kerajaan Babi dan Kerajaan Kera sedikit banyak telah berdampak kepada perekonomian di kawasan danau hutan. Kurs mata uang di masing-masing kerajaan sering terkoreksi akibat kebijakan ekonomi global yang ditetapkan oleh Kerajaan Kera maupun kerajaan Babi. Akan tetapi seluruh pimpinan kerajaan kawasan danau hutan bersepakat untuk menyatukan barisan, yaitu dengan kemudahan perijinan perdagangan antar kerajaan, dan penentuan kurs mata uang acuan yang ditetapkan flat, tidak berpengaruh terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing kerajaan terhadap mata uang kerajaan Kera yang selalu mendominasi hutan rimba raya.

Saat Osas Raja Kodok diberi kesempatan berbicara di depan khalayak undangan, Osas berdiri dengan gagahnya dan berpidato tanpa membawa teks. Osas membuka pidatonya dengan kalimat penyemangat kepada semua kerajaan di kawasan danau hutan, "saudara-saudaraku sekalian, para binatang penghuni danau hutan di rimba raya, saya bangga menjadi salah satu dari kalian, saya pun bangga bahwa tekanan ekonomi global yang sulit saat ini masih membuat kita tetap bersatu. Memang benar, perang dagang antar dua kerajaan besar yang sedang terjadi saat ini dan berpengaruh kepada perekonomian masing-masing kerajaan kita, maka.. kita perlu melakukan manuver yang signifikan dalam kebijakan ekonomi kita, jika perlu.. mari kita berdagang antar kita sendiri. Kita kurangi perdagangan dengan mereka, dan mari kita memajukan ekonomi masing-masing kerajaan dengan meningkatkan perdagangan sesama kita. Sungguh, tidak akan binasa kita jika tidak membeli mobil-mobil mewah mereka, tidak akan menderita kita jika tidak membeli barang-barang murah dari kerajaan Babi, tetapi kita akan jaya jika kita saling mengisi sesama kita. Sebagaimana cerita game yang sedang digandrungi anak muda beberapa tahun belakangan ini, Mobile Legend atau ML, setiap kita adalah Hero, setiap kita adalah pahlawan, tetapi kita hanya bisa memenangkan pertempuran jika kita saling mengisi dengan menyamakan target target capaian kita, yaitu makmur dan maju bersama". Pidato Osas pun disambut dengan gemuruh standing applause yang sungguh meriah. Kemudian Osas menutup pidatonya dengan bagian ref lagu yang sedang trend di jagad IG, bukan deen assalam, bukan.. kalian salah duga, dan juga bukan tentang jainuddin atau pajero, tetapi lagu yang sangat dikenal oleh seluruh binatang di hutan, yaitu lagu Hei Tayo, "Hei Tayo, Hei Tayo, dia bis kecil ramah.. dst".

Osas meninggalkan podium masih dengan gemuruh tepuk tangan yang panjang, ternyata Raja Osas sungguh raja yang kekinian dan tidak kudet dengan perkembangan informasi di media sosial. Walau pun Osas termasuk Kodok generasi X tetapi masih bisa mengikuti perkembangan informasi di generasi milenial. Sungguh luar biasa, dan emejing.. Pidato Osas tentang ML mulai merebak di media elektronik bahkan menjadi salah satu cuitan dengan hashtag paling banyak. Walau pun demikian, tetap ada yang nyinyir dengan pernyataan dan statement Osas si Raja Kodok, salah satu nyinyiran yang menghiasi media adalah tentang Raja Game, "sebenarnya Osas itu Raja Kodok atau Raja Game, yang diurusi ML, mestinya kalau bikin pidato lebih greget lagi, fokus tentang kemajuan kerajaan, bukan malah bahas game". Atau nyinyiran tentang penggal lagu Hei Tayo dalam pidato, "suara cempreng, mau nyanyi pula.. hei tayo, hei tayo.. kenapa nggak sekalian hei infrastruktur, hei dana ibadah, aku pakai investasi, melompat, melaju, datangkan pekerja asing".

Yah, begitu lah adanya.. yang dilakukan Osas, bagi para pembenci, tidak pernah ada yang benar, Osas beribadah pada Tuhan pun masih dinyinyirin, apalagi kalau bicara salah, pasti langsung digoreng habis. Adil lebih baik, apresiasi semua prestasi, dan beri support agar kerajaan menjadi lebih baik. Suka nyinyir nanti hatinya busuk, semua prilaku akan berdampak pada jasad. Kalau keram otak baru tau rasa.. Ayok, bicara yang baik-baik, tapi kalau tidak bisa bicara yang baik, diam saja... mungkin lebih baik.

#NyinyirBermartabat #TahunPolitik #OsasSiRajaKodok #KampretManaKampret #DamaiYuk #CebbyJugaMakhluk (?)