Showing posts with label Gajah. Show all posts
Showing posts with label Gajah. Show all posts

Sunday, January 6, 2019

Jamah, Gajah ramah

Jamah si Gajah ramah selalu tampil Caria serta ramah. Semua penghuni hutan akan disapanya, walau hanya sekedar.. "selamat pagi".

Suatu hari, Jamah berjalan sendirian di tepi sungai, lalu berjumpa pada Buaya dan Kuda Nil. Jamah pun menyapa mereka berdua, "hello buaya, apa kabar kuda nil, tumben nih kalian berdua akrab, biasanya suka ribut". Mereka berdua pun saling pandang, dan Buaya berkata dengan sedikit ketus, "hei Jamah, kita lagi akrab, kamu ribut.. Nggak suka lihat kami akrab begini?". Kuda Nil pun menimpali, "Iya nih, kita lagi damai sentosa, malah disuruh ribut".

Si Jamah nyengir kuda, "Bukan begitu, kemarin kan kalian berdua ribut nggak jelas gegara sosmed, malu lah bro, cross check berita, budayakan sebagai bangsa binatang yang ber-literasi"

Thursday, January 3, 2019

Semut Marah

Memang kejadian yang sangat jarang ditemui, semut marah.. bukan semut merah. Kali ini si semut sedang marah kepada Gajah, dan penyebabnya sungguh sepele, gajah mandi di tepi danau dengan menggunakan belalainya sebagai alat semprot, tetapi sayangnya si Gajah menyemprot ke mana-mana sehingga mengenai sarang semut dam basah sudah sarang si semut. Maka, marah lah semut dan menyimpan dendam kepada Gajah, "awas yah, akan aku gigit nanti belalaimu, supaya kamu tau rasanya sakit kami"

Hari pun berlalu, pada esok harinya, Gajah sedang beristirahat di bawah pohon rindang. Kemudian, dengan berjalan pelan-pelan, semut berjalan mendekati Gajah yang sedang tertidur dan masuk ke dalam telinganya yang lebar. Di dalam telinga, sekumpulan semut tersebut membuat gaduh, bermain-main dan juga menggigit gendang telinga si Gajah.

Gajah pun bangun kemudian berteriak-teriak, "aduuuh, aduuuh, ada apa ini, kenapa telingaku sakit sekali.. aduuuuh". Semut yang sedang berbuat gaduh di dalam telinga si Gajah mulai tertawa-tawa, dan mereka semakin menggila, "rasakan pembalasan kami", begitu ujar si semut.

Gajah tetap berteriak dan berguling-guling di tanah karena kesakitan, kemudian semut keluar dan menunjukkan dirinya, semut menggigit belalai gajah dan berkata pada gajah, "Hei kamu, gajah gendut, lihat aku si semut... bagaimana rasanya, sakiiiit...? Kemarin engkau pernah menyemprot rumah kami pakai belalaimu yang panjang ini, basah semua seisi sarang, dan kamu tidak perduli", mendengarkan ucapan si semut, lalu Gajah berkata, "maafkan aku semut, lain kali aku akan hati-hati, tapi.. memangnya kapan aku melakukannya?", aaaah, ternyata Gajah memang tidak menyadari kelakuannya saat mandi, semut pun menjelaskan, "saat kamu mandi di danau, kamu pakai belalai untuk semprot-semprot badan, semprotanmu itu sampai ke sarang kami taauuuuu, makanya lain kali, kamu harus hati-hati, jangan menyusahkan binatang lain". Gajah pu mengangguk, "iya, maafkan aku, aku tidak tau, tapi tolong bilang kepada teman-temanmu yang masih di dalam telinga supaya menghentikan gaduh ribut dan gigit-gigit seisi telingaku, sakit niiih".

Kemudian, semut-semut pun menghentikan aktifitasnya, mereka keluar dari telinga si Gajah dan meninggalkan Gajah yang masih merasakan kesakitan. Tebalas sudah ulah si Gajah kemarin yang menyemprot sarang mereka, dan mereka pun bisa memberikan pelajaran pada Gajah yang bertubuh besar.

Friday, December 28, 2018

Monyet Adu Domba (Bagian 3)

Begitu lah ulah Mohax, berita bohong yang disebarkannya menyebabkan kedua jenis binatang perkasa di hutan berseteru. Gajah memendam amarah dan Badak menyimpan dendam, semua ini diakibatkan berita bohong belaka.

Setelah rapat di majelis tinggi hutan rimba, Raja Hutan pun memutuskan memanggil mereka berdua yaitu Gajah dan Badak, serta memanggil Mohax si penyebar berita bohong. Mereka bertiga disidang dan dihadiri oleh seluruh pembesar di kerajaan hutan. Kuda memulai pembicaraan, "bagaimana sampai terjadi, perselisihan antara Badak dan Gajah sudah menjadi berita yang viral, bahkan anak-anak pun membicarakannya". Jerapah ikut menimpali kalimat Kuda, "sungguh keterlaluan, jangan lah kalian mudah terhasut oleh berita-berita yang dipelintir oleh media, bijak lah dalam bersikap, tetap jaga persatuan dan kesatuan warga hutan". Raja Hutan masih memperhatikan jalannya musyawarah dan sidang akbar yang diselenggarakan untuk memutuskan kasus perseteruan antara Badak dan Gajah.

Akhirnya si Monyet Bijak angkat bicara, "Mohax, sebagai bangsa monyet, jangan lah suka menyebar berita yang dibumbui adu domba dan provokasi, iya.. kami tahu bahwa media online mu jadi banyak pengunjung, dan tentu saja berdampak kepada peningkatan penghasilanmu, tetapi jangan dengan cara mencelakakan binatang lain". Mohax hanya bisa cengar cengir saja karena di dalam sidang, menjadi pusat perhatian seluruh binatang ahli majelis.

Kancil yang cerdik kemudian menyampaikan beberapa kalimat yang menyudutkan posisi Mohax, "menurut hemat saya, kita harus kembalikan ini berdasarkan perundangan yang berlaku di hutan rimba, khususnya penyalahgunaan media cetak maupun media online. Yang dilakukan oleh Mohax sudah tentu menyangkut pasal-pasal yang berkaitan erat dengan menyebarkan kebencian, perkataan bohong, dan banyak lagi pasal.. tetapi kita warga hutan, tidak bisa semena-mena seperti layaknya manusia, baiknya Mohax diberi surat teguran terkait tindakannya, dan Mohax harus membuat surat penyataan bahawa dirinya tidak akan melakukan hal serupa di kemudian hari. Jika Mohax masih membandel dan melanggar pernyataannya sendiri, maka dapat kita tindak tegas"

Semua ahli majelis pun menganggukkan kepala tanda setuju, sedangkan kemarahan dan dendam kedua binatang yang tadinya berseteru, mulai sedikit reda dan menyadari bahwa dalang kerusuhan ini sebenarnya bersumber dari Mohax yang menggoreng berita sehingga terkesan provokatif dan adu domba. Keduanya akhirnya berdiri berhadapan, kemudian bersalaman, dan saling memaafkan.

Wednesday, December 26, 2018

Monyet Adu Domba (Bagian 2)

Berita yang tersebar di hutan rimba tentang permusuhan antara Badak dan Gajah telah merebak ke seluruh penghuni hutan. Semua pun menduga-duga, seandainya keduanya berkelahi atau bahkan berperang, apa yang akan terjadi, siapa pemenangnya, dan banyak lagi pertanyaan.

Sebagian penghuni hutan pun mulai berspekulasi, tentang gajah dan juga Badak. Perseteruan antar keduanya sampai juga di telinga raja hutan. Raja Hutan memanggil para binatang kepercayaannya, seperti kancil, rusa, dan juga si Monyet Bijak.

Raja Hutan berkata, "perselisihan antara Badak dan Gajah sudah mulai tersebar ke seluruh hutan, seharusnya kita bisa mencegah pertarungan antara keduanya, jangan sampai terjadi keributan yang lebih besar lagi". Rusa berkata kepada Raja, "ini semua gara-gara berita yang tersebar sangat cepat, semestinya kedua belah pihak mampu menahan diri, agar suasana tidak semakin keruh. Keduanya harus bisa berbicara dengan kepala dingin, Jika keduanya tidak mau mengalah dan merasa benar sendiri, kerugian bukan hanya pada diri mereka saja, tetapi semua warga hutan akan terdampak".

Monyet Bijak hanya bisa diam. Tentu saja diam, karena Monyet Bijak tahu persis siapa yang membuat onar pertama kali, yaitu berita-berita yang disebar luaskan oleh Mohax, dari bangsa monyet sendiri. Kemudian, Monyet Bijak berkata, "sebaiknya keduanya kita panggil dan kita ajak berbicara, jangan sampai Gajah maupun Badak bertindak gegabah. Jika kedua jenis binatang ini sampai berperang, maka kerusakan dan kerugian bukan hanya akan menimpa mereka tetapi juga akan berdampak kepada seluruh warga hutan".

Saturday, December 22, 2018

Monyet Adu Domba (Bagian 1)

Di hutan rimba, terdapat seekor Monyet yang suka sekali mengadu domba sehingga terjadi pertengkaran dan perkelahian. Monyet tersebut bernama Mohax atau Monyet Suka Hoax. Hoax sendiri berarti berita bohong, karena memang Mohax dalam menjalankan aksi adu dombanya selalu menyebar berita hoax.

Suatu hari, Mohax berencana menimbulkan keributan antara gajah dan badak. Dua binatang perkasa ini akan diadu dombanya sehingga terjadi perkelahian antara gajah dan badak. Tujuannya sederhana, setiap momen dan kejadian akan diviralkan dan jika sudah viral, semakin banyak yang mengakses web milik Mohax. Semakin banyak yang akses, semakin besar pula kemungkinan Mohax mendapatkan keuntungan dari iklan.

Langkah pertama, dihasutnya gajah dengan statemen dan komentar miring tentang dirinya dan seakan badak sebagai pelakunya. Tersebar berita bahwa Badak adalah binatang paling kuat, tanduknya kokoh dengan badan yang perkasa. Otot tubuhnya yang menonjol menunjukkan bahwa badak memiliki tubuh terlatih, sangat berbeda dengan gajah yang tubuhnya penuh dengan lemak dan menggelambir.

Pemberitaan awal tersebar dangan cepat, Gajah pun murka dengan statement yang sudah terlanjur viral. Padahal statement tersebut tidak diucapkan oleh Badak, hanya tulisan yang dirangkai oleh Mohax untuk mengawali perkelahian antara Badak dan Gajah.

Mohax datang menemui Gajah, dan menanyakan beberapa pertanyaan yang menjebak, "hei Gajah, sudah baca berita hari ini kan.. Bagaimana pendapatmu tentang ucapan si Badak". Gajah mendengus dan dengan kepal tangan yang diacungkan ke udara, Gajah berkata, "Badak kurang ajar, menghina kami para gajah, ingin mampus mungkin dia.. Badak harus meminta maaf kepada kami para Gajah".

Dan berita susulan pun mulai terbit dengan headline provokatif, "Gajah ingin membunuh Badak". Hanya dalam hitungan menit, berita tersebut pun kembali viral, bahkan ucapan Gajah pun dijadikan komoditas dalam mendongkrak popularitas berita yang sudah terlanjur viral.

Bagaimana pihak Badak mensikapi berita tersebut..!? Badak siap perang, Badak siaga satu.. Hmmmm, bukan kah hal ini sangat tidak perlu untuk terjadi, tetapi itu lah sikap pihak Badak. Tanpa menunggu komando, Mohax segera membuat berita susulan atas statement yang dibuat oleh Badak. Mohax berpikir, "sepertinya akan terjadi berita super viral nih, pertarungan akbar antara Badak dan Gajah, mantab surantab". Kemudian terbit lah berita dengan judul, "Badak siaga satu, Badak siap perang melawan Gajah" Begitu lah berita hoax menyebar sangat cepat, dan tentu saja kondisi ini menganggu stabilitas nasional di hutan rimba raya.

Monday, December 10, 2018

Gajah pandai berenang

Gajah tapi jago renang..? Ini bukan lelucon, tapi memang demikian adanya. Gajah menggunakan belalainya sebagai alat bantu pernafasan selama gajah berenang di sungai atau bahkan berenang di laut. Waaaah, berani sekali ya.. tepat sekali, Gajah terkadang menyeberangi sungai dan menyegarkan diri dalam danau yang dalam tanpa takut tenggelam.

Dengan kemampuannya berenang, gajah bisa berenang sambil mendinginkan suhu tubuhnya serta mandi di dalam sungai. Waaaah, sekali dayung tiga pulau terlewati yah.. begitu lah peri bahasa berbunyi. Em bagaimana dengan kalian..? Kalian suka berenang kaaaan..? Tetapi, apakah kalian bisa berenang seperti Gajah yang mahir berenang..? Yuk belajar berenang, jangan kalah sama gajah, walau pun badannya besar tetapi gajah sangat pandai berenang, di sungai, di danau, bahkan di laut. Hebat sekali yah, jadi pengen berenang juga deh.

Walau pun terkadang, anka gajah tidak suka mandi pagi karena dinginnya suhu pada pagi hari. Namun demikian, Gajah sangat suka berenang-renang secara bergerombol dengan kawanan dan kelompok gajah lainnya. Sehingga, walau pun takut dengan dinginnya air, anak-anak gajah akan tetap mandi di sungai.

Ringgo, Gajah Pemarah

Dia bernama Ringgo, kerjanya hanya marah. Entah karena masalah sepele sekali pun si Ringgo Gajah akan marah jika hal tersebut tidak mengenakkan hatinya.

Suatu hari, diadakan perlombaan lari antar semua binatang di dalam hutan. Perlombaan ini dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan berat badan dan juga ukuran binatang. Yang menarik adalah perlombaan lari antara kelinci dan kura-kura. Sontak saja Ringgo mencibir kelinci dan juga kura-kura. Yah, keduanya mendapatkan cibiran, Ringgo berkata kepada kelinci, “Kelinci, kalau cari musuh yang seimbang dong, kamu kan larinya kencang, pilih musuh koq kura-kura, nggak sekalian siput sawah saja kamu ajak bertanding lari.. ha.. ha.. ha”. Sedangkan untuk kura-kura, Ringgo berkata, “Kura-kura, kamu itu jalannya pelan, mana mungkin menang melawan kelinci yang larinya secepat kilat. Kamu hanya bisa menang kalau lomba lari melawan batu kali.. ha.. ha.. ha”.

Begitulah Ringgo si Gajah Pemarah dan juga suka mengkritik. Semua binatang di hutan rimba tidak akan luput dari kritikan pedas Ringgo si gajah. Sampai-sampai, beberapa binatang enggan bertegur sapa dengannya. Karena salah-salah, walau pun hanya menyapa, pasti dimarahi dan dikritiknya juga.

Suatu ketika saat terjadi musim kemarau panjang, Ringgo keluar dari rumahnya dengan wajah marah. Sembari menggerutu, Ringgo mengucapkan sumpah serapahnya kepada alam, “Hei langit, kenapa kau tak kunjung hujan, hei sungai.. kenapa kau mulai kering dan aliranmu tidak sederas biasanya, dasar kalian keparat semuanya”. Padahal, dengan mengucapkan sumpah serapah begitu, hujan pun tidak akan turun, begitu juga dengan sungai, tidak tiba-tiba mengalirkan derasnya air sungai yang jernih lagi segar. Binatang-binatang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Ringgo si gajah pemarah.

Suatu hari, nasib buruk menimpa Ringgo si gajah. Dia terperosok ke dalam lubang jebakan pemburu. Badannya yang besar membuat dirinya sulit untuk bergerak dan keluar dari lubang tersebut. Mulai lah Ringgo berteriak-teriak minta bantuan.

Kelinci datang melihat keadaan Ringgo yang terjebak di dalam lubang. Ringgo berkata pada kelinci, “Hei, kelinci.. ayo sini, bantu aku keluar… aku terjebak di sini”. Begitu rengek Ringgo minta bantuan kelinci. Tetapi apa daya, kelinci hanya lah seekor kelinci. Badannya kecil dan tak akan sanggup mengangkat tubuh Ringgo yang sangat besar tersebut. “Ringgo, kamu kan tau kalau aku ini hanya seekor kelinci, mana bisa aku mengangkat tubuhmu yang besar itu”. Tiba-tiba Ringgo pun marah dengan ucapan kelinci, Ringgo mulai marah dan membentak si kelinci, “kamu kalau tidak bisa bantu, jangan di sini, pergi sana yang jauh, sakit mataku melihat kamu yang hanya mondar-mandir tapi tidak menolong”. Kelinci sungguh kesal dengan ucapan Ringgo, kemudian kelinci membalikkan badan dan buang air besar ke dalam lubang tempat Ringgo terperangkap, sambil berkata, “Ringgo, nih aku kasih kotoranku, siapa tau bisa bermanfaat untuk menyembuhkan otakmu yang selalu marah-marah itu”. Kemudian kelinci pun pergi meninggalkan Ringgo yang semakin marah akibat ulah kelinci yang berak di dalam lubang tempatnya terperangkap. Ringgo teriak keras, “sialan kau kelinci, awas kalau aku bisa keluar dari lubang ini, akan aku injak sampai kau lumat rata dengan tanah”.

Sunyi senyap, tidak ada binatang yang mau mendekati Ringgo si gajah. Dalam hatinya, Ringgo berkata, “ah, kemana semua binatang, mengapa tidak ada satu pun binatang yang peduli denganku”. Pada akhirnya, para pemburu datang dan melihat ada gajah yang terperangkap di dalam lubang jebakan yang mereka buat.

Para pemburu itu pun tertawa-tawa dengan riangnya, seorang pemburu berkata, “ah lumayan, kita dapat gajah, gadingnya mahal jika kita jual, tubuhnya kita biarkan saja membusuk di dalam lubang ini”. Mendengar ucapan si pemburu, Ringgo sungguh sangat kebingungan, berteriak-teriak minta tolong kepada seluruh isi hutan rimba, tetapi sayang sekali, tiada satu binatang pun yang mau membantunya, hingga akhirnya terdengat suara keras menggelegar… dooooor… seorang pemburu menembakkan senapan pemburunya untuk membunuh Ringgo si gajah.

Berakhir sudah riwayat Ringgo si gajah pemarah, tanpa seekor binatang pun yang peduli dengannya.

Sunday, December 9, 2018

Gajah yang baik hati

Gajah adalah binatang yang besar dengan belalainya yang panjang. Tubuh besarnya sering membuat binatang lain takut, khususnya binatang yang ukurannya jauh lebih kecil dari pada gajah. Tapi tahukah kamu jika gajah memiliki hati yang sangat lembut, begini lah ceritanya.

Suatu hari, gajah sedang berjalan riang di hutan. Kemudian gajah melihat sekumpulan serangga yang sedang bekerja mengumpulkan makanan menjelang musim hujan. Gajah memperhatikan dengan seksama serangga-serangga yang bekerja dengan giat. Kemudian gajah menyapa seekor belalang, "hei, lagi apa kalian semua..?", dengan tetap bekerja, belalang berkata, "kami sedang bekerja menyiapkan persediaan makanan menjelang musim penghujan, kamu tahu kan.. kalau sudah masuk musim penghujan, kami akan sulit mencari makanan karena dimana-mana akan basah semua". Gajah hanya tersenyum mendengarkan penjelasan belalang yang panjang dan lebar. Kemudian gajah bertanya lagi pada belalang, "hei belalang, kamu kan tahu kalau badanku ini sangat besar, kalian bisa berlindung dibawahku jika hujan turun, kalian pasti akan terlindungi". Belalang menghentikan pekerjaannya sesaat lalu mengatakan, "gajah, kalau berlindung di bawah naunganmu, mungkin kami akan terlindungi dari hujan, tapi bagaimana jika ada banjir..? lagi pula, kami ini selalu mencari tempat tinggal yang kering dan jauh dari jangkauan banjir atau pun hujan". Gajah hanya mengangguk paham dengan penjelasan belalang.

Kemudian gajah menyapa lagi, "hei, belalang.. saya lagi bosan nih, saya boleh ikut bantu kalian bekerja..?", Belalang menatap ragu, lalu memandang kepada teman-temannya yang lain, lalu belalang berkata, "sepertinya nggak usah bantu deh, kalau kamu ikut bantu bisa berantakan semua kerjaan kami.. kami kan mengumpulkan biji-bijian yang kecil ukurannya, sedangkan kamu, gajah yang besar, belalaimu saja seukuran ranting pohon, bagaimana bisa kamu membantu kami..?".

"Tenang saja, dari pada kamu dan teman-temanmu terbang ke sana dan kemari, akan aku ambilkan biji-bijian itu beserta batang dan pohonnya. Sehingga kalian tinggal mengambil biji-bijian yang tersedia bersama batang dan pohon yang aku ambil" begitu tawaran gajah. Akan tetapi tawaran gajah ditolak dengan halus oleh belalang, sambil berkata, "gajah, terima kasih banyak atas tawaran bantuan yang engkau sampaikan, akan tetapi.. jika kamu mengambil biji-bijian tersebut beserta ranting dan pohonnya, maka akan rusak lah pohon tersebut dan bagaimana kami akan dapat makanan untuk musim berikutnya jika pohon dan tanaman biji-bijian tersebut sudah rusak..?".

Gajah kembali menganggukkan kepalanya tanda telah paham. Kemudian gajah pun tersenyum dan berniat untuk meninggalkan sekumpulan serangga yang sedang bekerja, "baik lah kalau begitu, jika kalian membutuhkan aku, kalian tinggal panggil aku saja, aku akan selalu siap untuk membantu kalian, sampai jumpa lagi yah, mau lanjutin jalan-jalan sore nih". Belalang menganggukkan kepalanya, "ok, selamat jalan-jalan gajah, hati-hati di jalan dan terima kasih atas tawaran bantuan kepada kami, salam untuk keluargamu di rumah".

Begitu lah kehidupan di hutan, mereka saling memperhatikan, berusaha untuk saling membantu dan juga selalu berusaha untuk menjaga kelestarian hutan. Mereka tidak serakah dan mengambil hasil sebanyak-banyaknya walau pun mereka mampu. Karena mereka hidup bukan untuk hari ini saja, masih ada hari esok, musim depan, dan juga untuk menjaga kehidupan anak dan cucu mereka kelak. Mari kita jaga hutan dan lingkungan kita bersama.

Gajero si muka cemberut

Di dalam rimba raya, terdapat seekor gajah yang suka cemberut. Yang ada di dalam pikirannya adalah, apa saja yang di lakukan oleh binatang lain selalu salah, hanya dirinya sendiri yang benar. Hmmmfffttt, susah juga kalau begini.

Pada suatu hari, ada acara keramaian di dalam hutan, yaitu perayaan ulang tahun si raja rimba. Semua binatang diundang, begitu juga dengan Gajero si gajah. Tetapi, Gajero selalu berkomentar miring dengan apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sambil menggerutu dia berkata, "dasar binatang tua, sudah berumur masih saja merayakan ulang tahun". Yah, begitu lah Gajero si gajah, semua yang dilakukan binatang lain selalu salah di matanya. Akan tetapi Gajero tetap datang memenuhi undangan si raja rimba walaupun dengan tetap menggerutu sepanjang jalan.

Di tengah perlajanan menuju tempat perayaan ulang tahun, Gajero bertemu dengan Monyet dan Landak. Kemudian monyet menyapa Gajero, "Gajah, kamu bawa hadiah apa ke undangan ulang tahun raja rimba?" begitu tanya si monyet. Ditambah pula dengan sapaan landak, "Iya nih, cemberut saja.. kita kan mau ke undangan perayaan ulang tahun, koq pasang wajah cemberut". Sambil tetap cemberut, Gajero menyahuti pertanyaan monyet dan landak, "aku nggak bawa hadiah apa-apa, dan aku mau cemberut atau tersenyum.. semua bukan urusan kalian, urus saja urusan kalian sendiri". Monyet dan landak saling menatap, sejurus kemudian mereka berjalan mendahului Gajero. Monyet berkata, "ya sudah, kalau begitu kami jalan duluan yah.. khawatir makanan yang disediakan oleh si raja rimba habis keduluan binatang lainnya, selamat menikmati harimu Gajah".

Grrrrmmm, Gajero semakin menggerutu dengan wajah cemberutnya yang khas. Tetapi di perjalanan dan kesendiriannya, Gajero pun berpikir, kenapa juga dirinya harus selalu cemberut dan tidak suka dengan urusan binatang lain..? Kenapa binatang lain selalu salah di dalam pikirannya..? Kenapa dirinya selalu merasa benar..?

Dari kejauhan perayaan ulang tahun si raja rimba, dilihatnya bagaimana seluruh binatang bersuka ria dengan semaraknya acara dan juga suguhan makanan untuk seluruh binatang di dalam hutan. Gajero merenung dalam diam, berpikir keras.. kenapa dirinya seperti ini..? Kalau saja dirinya tetap seperti ini, pasti tidak ada binatang yang mau berteman dengannya. "Aaaaah, sepertinya aku harus berubah menjadi binatang yang baik", begitu ucap Gajero di dalam hatinya. Kemudian Gajero berguman dalam hatinya, "tapi mulai dari mana yah..?, seluruh hutan mengenalku sebagai Gajero si muka cemberut, ah.. sudah lah... tekad ini sudah bulat, aku harus bisa menjadi teman yang baik dan menyenangkan untuk semua binatang di hutan".

Begitu lah kisah Gajero si muka cemberut. Sejak hari itu dia bertekad akan selalu menjadi gajah yang baik dan menyenangkan bagi seluruh warga hutan belantara. Semoga Gajero selalu bisa tersenyum dan menerima perbedaan dan pemikiran binatang lainnya tanpa merasa dirinya paling benar sendiri.

Boni si Gajah Lucu

Di hutan rimba, hiduplah seekor gajah lucu yang senang berteman. Setiap hewan di hutan rimba selalu di sapanya dengan akrab. Akan tetapi tidak semua binatang suka dengan basa-basi dan ramah tamah dari Boni si gajah lucu.

Suatu hari yang panas, Boni si gajah lucu keluar dari rumahnya dan hendak mencari minum untuk menyegarkan tubuh dan kerongkongannya. Berjalanlah si Boni menuju sungai yang airnya segar dan juga jernih. Ternyata, di sungai sudah banyak binatang lainnya seperti jerapah, kuda, kerbau, zebra, dan banyak lagi.

Boni si gajah lucu pun mulai menyapa semua binatang dengan ramah, "hai jerapah, apa kabar zebra, selamat siang kerbau, bagaimana harimu kuda yang gagah", akan tetapi binatang-binatang itu hanya tersenyum sinis dengan kedatangan si Boni. Lalu Kuda pun balik menyapa si Boni, "hei Boni, kalau mau minum.. sini, bergabung dengan kami, tapi kamu jangan berenang.. ini air sungai bisa terkuras habis kalau kamu meloncat ke dalam sungai". Lelucon kuda disambut tawa binatang lainnya. Tetapi ternyata Boni mulai mengambil ancang-ancang untuk meloncat ke dalam sungai.

Kerbau teriak, "Boni, apa yang akan kamu lakukan..? Tadi kan sudah dibilang, jangan meloncat ke sungai dan jangan berengan, kami semua sedang minum". Boni tidak menggubris ucapan Kerbau, lalu beberapa saat kemudian.. Byuuuur, Boni pun meloncat ke dalam sungai dan menyebabkan riak gelombang yang besar hingga membasahi semua binatang yang sedang minum.

Boni, bukan hanya berenang di sungai tetapi melumuri tubuhnya dengan lumpur sambil berkata, "kalian sedang apa, kalian sedang berbicara dengan siapa..? Aku bukan lah Boni si gajah, tetapi aku adalah kuda nil.. lihat lah tubuhku yang penuh lumpur ini". Semua binatang yang sedang minum dan basah kuyup tidak jadi marah melihat tingkah si Boni, mereka ikut tertawa-tawa melihat ulah si Boni. Akhirnya para binatang pun ikut serta berenang di sungai bersama Boni sambil main lumpur.